Warisan, Hibah, dan Wasiat

Siang Planners, dalam tulisan kali ini, kami akan membahas kembali perbedaan antara warisan, hibah, dan wasiat, karena topik ini merupakan topik yang paling banyak mendapat respon dari pembaca.

A. Warisan
Di dalam hukum syariah, yang namanya warisan hanya dibagi-bagi manakala ada seseorang yang meninggal dunia dengan meninggalkan harta yang punya nilai nominal. Harta tersebut kemudian dibagi kepada ahli warisnya dengan ketentuan pembagian langsung dari langit. Bukan hasil rekayasa dan pendekatan logika manusia. Di dalam Al Qur’an, Pembagian warisan telah dicantumkan secara jelas dalam Surat An-Nisa’ ayat 11 dan 12 (penjelasan mengenai pembagian hak waris dalam Islam akan dibahas dalam tulisan berikutnya). Agama Islam tidak pernah mengenal seseorang yang masih hidup segar bugar membagi-bagi hartanya kepada ahli warisnya. Karena syarat terjadinya waris yang pertama kali adalah meninggalnya seseorang yang hartanya akan dibagi waris.

B. Hibah
Apabila ada orang yang masih hidup yang membagi-bagi hartanya, maka hal itu disebut hibah. Hibah adalah harta yang diberikan kepada pihak lain, baik ahli waris atau pun yang bukan ahli waris, berapa pun nilainya, semasa dia masih hidup. Konsekuensinya, pada saat pembagian itu pula harta tersebut sudah berpindah pemilik. Begitu dibagikan, harta hibah tersebut sudah bukan lagi milik yang memberi hibah, tetapi secara sah dan resmi telah menjadi milik orang yang diberi hibah.

Agar sebuah hibah menjadi sah dan tidak berpotensi menimbulkan konflik di masa mendatang, maka haruslah dipenuhi syarat-syarat berikut:

1. Surat Pernyataan Hibah
Orang yang akan memberikan hartanya kepada orang lain sebagai hibah harus menandatangani surat pernyataan di atas kertas bermaterai. Di atas pernyataan itu dijelaskan jenis hartanya, nilainya, dan kepada siapa pemberian itu ditujukan.

Selain itu, pernyataan itu harus mendapatkan persaksian dari pihak lain yang dipercaya. Dan terutama sekali juga harus ditandatangani oleh para calon ahli waris si pemberi hibah agar tidak muncul masalah di kemudian hari.

Jadi agar hibah tidak menimbulkan konflik, surat pernyataan harus dibuat secara sah dan resmi.

2. Pengurusan Surat Kepemilikan
Setelah surat pernyataan hibah ditandatangani oleh semua pihak yang terkait,selanjutnya harus dilengkapi pengurusan surat bukti kepemilikan atas suatu harta.

Misalnya, ketika seorang ayah menghibahkan rumah kepada anaknya, maka hibah itu baru sah dan resmi secara hukum manakala surat-surat kepemilikan atas rumah itu sudah diselesaikan. Misalnya, sertifikat tanah itu sudah dibalik-nama kepada anaknya.

Apabila yang dihibahkan berupa kendaraan bermotor, maka STNK dan BPKB harus dibalik-nama pada saat penghibahan itu.

3. Penyerahan Harta
Bila harta itu berupa uang tunai, maka baru bisa disebut hibah kalau memang sudah diserahkan secara tunai, bukan sekedar baru dijanjikan.

Sebagai pihak yang diberikan hibah, sebaiknya jangan merasa sudah memiliki harta kalau harta itu secara fisik belum diserahkan. Kalau baru sekedar omongan, janji, keinginan, niat dan sejenisnya, harus disadari bahwa semua itu belum merupakan pemindahan kepemilikan.

C. Wasiat
Ada sebagian orang yang menjanjikan bila nanti dirinya meninggal dunia, maka harta-harta yang dimilikinya akan diserahkan kepada si fulan dan si fulan. Inilah yang disebut dengan istilah wasiat.

Namun agar wasiat ini menjadi sah dan resmi secara hukum, ada syarat dan ketentuannya.

1. Penerima wasiat bukan ahli waris
Syariat Islam telah mengharamkan para ahli waris menerima wasiat dari orang yang mereka warisi. Hal itu ditegaskan oleh dalil-dalil syar’i bahwa:
“Tidak ada wasiat bagi ahli waris”
Mengapa ahli waris tidak berhak untuk menerima harta lewat wasiat? Karena para ahli waris telah menerima harta lewat warisan, dan harta dari warisan sudah menjamin bahwa ahli waris itu menerima harta. Dia tidak perlu lagi menerima harta lewat wasiat.

2. Nilai wasiat maksimal 1/3 dari total nilai harta
Haram bagi seseorang untuk berwasiat dengan seluruh hartanya. Dan hal itu terjadi di masa Rasulullah SAW. Seorang sahabat Nabi yang bernama Sa’ad bin Abi Waqqash berniat untuk mewasiatkan 2/3 hartanya. Maksudnya, apabila dirinya nanti meninggal dunia, 2/3 dari harta yang dimilikinya akan diserahkan ke baitulmal (rumah zakat).

Mendengar niatnya, Rasulullah SAW melarangnya. Sehingga Sa’ad mengurangi jumlah nilai yang akan diinfaqkan menjadi separuhnya. Namun lagi-lagi Rasululullah SAW melarangnya. Terakhir, shahabat yang dermawan ini mengatakan kalau begitu bagaimana dengan 1/3nya?

Rasulullah SAW kemudian berkata, “Ya, sepertiga saja. Dan sepertiga itu cukup besar (banyak).”

Maka para fuqaha dengan berlandaskan kepada dalil ini menyimpulkan bahwa nilai wasiat itu maksimal adalah 1/3 dari nilai total harta yang dimiliki. Sisanya yang 2/3 (duapertiga) menjadi hak para ahli waris.

Seperti juga dalam hal hibah, maka wasiat ini baru sah dan resmi serta berkekuatan hukum manakala syaratnya sudah terpenuhi. Selain itu juga untuk menghindari konflik di kemudian hari antara penerima wasiat dan ahli waris.

Semua berkas mulai dari pernyataan penyerahan harta sebagai wasiat, lembar-lembar persetujuan dari pada ahli waris, dan berkas-berkas lainnya, sebaiknya disahkan oleh notaris, agar di kemudian hari niat baik almarhum tidak malah jadi bumerang karena para ahli warisnya saling berbunuhan meributkan harta.

Salam Planners

Perusahaan Asuransi Manakah Yang Saya Pilih?? (3)

Selamat Siang Planners,

Kemarin ini Kami telah membahas dasar-dasar pemilihan perusahaan asuransi yang sebaiknya Anda pilih. Setelah itu semua dilihat, kebanyakan orang akan melihat atau mendengar pendapat orang lain terkait perusahaan tersebut baik secara langsung maupun tidak langsung.

Apapun beritanya, baik positif atau negatif, sebisa mungkin Anda harus dengar dari sumbernya secara langsung. Karena berita yang telah lewat perantara orang kedua, ketiga dan seterusnya, akan mengalami perubahan cerita bahkan maksud cerita pun bisa berubah total. Selain itu, semua cerita yang timbul jangan di generalisasikan melainkan harus dilihat kasus per kasus karena dapat berbeda kondisi.

Apalagi berita yang disalurkan melalui berbagai media cetak maupun elektronik, terkadang sudah bercampur dengan berbagai opini masyarakat atau hanya diberitakan dari satu sudut pandang (terutama yang negatif) saja. Kami yakin Anda adalah orang yang dapat memilah berita tersebut.

Berita yang paling banyak diungkit adalah tentang masalah klaim asuransi, selain itu tentang pelayanan yang kurang memuaskan, dan lain-lain. Banyaknya berita tentang masalah pelayanan perusahaan asuransi tersebut (andaikan benar) bukan berarti perusahaan tersebut jelek pelayanan nya. Cara menilai dengan adil adalah dengan memakai persentase. Jadi berapa persen nasabah perusahaan asuransi tersebut yang memang benar-benar merasa tidak puas dengan pelayanan perusahaan asuransi tersebut, bukan berdasarkan jumlah atau seringnya berita ketidakpuasan nasabah perusahaan tersebut.

Misal : ada 20 nasabah perusahaan asuransi A yang tidak puas dengan pelayanan nya (klaim, produk, agen, dan sebagainya). Pada perusahaan B ada 100 orang yang tidak puas. Perusahaan C ada 1.000 orang. Nah manakah perusahaan asuransi yang buruk pelayanannya? Sekilas Kita akan bilang perusahaan C karena jauh lebih banyak dibandingkan perusahaan lainnya. Namun coba Kita telusuri lagi. Ternyata jumlah nasabah perusahaan A hanya 200 orang, B ada 10.000 orang, dan C ada 2 juta orang. Coba kita lihat secara persentase, nasabah yang tidak puas pada perusahaan A sebesar 10 %, perusahaan B 1%, sedangkan C 0,05%. Manakah yang menurut Anda perusahaan yang paling banyak keluhan? Tentu adalah perusahaan A bukan? Namun kalau dilihat dari jumlahnya tentu terlihat perusahaan C paling sering muncul berita kekecewaan nasabahnya. Ternyata Kita bisa salah menilai kalau hanya melihat dari sisi jumlah. Belum lagi bila Kita harus yakinkan apakah berita tersebut memang benar terjadi seperti apa adanya atau hanya sekedar rekayasa atau berita lama yang diulang-ulang.

Nilailah sesuatu bukan dari apa yang dikatakan oleh orang-orang lain, namun berdasarkan apa yang memang benar-benar Anda dengar atau lihat secara langsung. Karena apa yang dinilai oleh orang lain belum tentu benar secara menyeluruh.

Jadi Anda sudah lebih paham dan jeli tentang perusahaan asuransi manakah yang secara objektif adalah terbaik bagi Anda bukan?

Selamat Memilih

Perusahaan Asuransi Manakah yang Saya Pilih?? (2)

Selamat Siang Planners,

Sekarang Kita akan lanjut pertimmbangan-pertimbangan apakah dalam menentukan perusahaan asuransi yang cocok dengan Kita :

  • Lamanya perusahaan asuransi berdiri. Perusahaan asuransi yang telah lama berdiri (lebih dari 10 tahun) artinya perusahaan ini sudah cukup stabil keuangannya dan dapat diterima oleh masyarakat dengan baik. Bila perusahaan ini baru, maka Anda belum mengetahui dengan jelas rekam jejak perusahaan ini dan stabilitas keuangannya. Namun perlu diingat, setelah diatas 10 tahun, maka kualiats perusahaan asuransi tidak lagi didasarkan oleh jangka waktu berdirinya, namun yang perlu Anda perhatikan adalah pertumbuhannya serta pengakuannya di masyarakat luas.
  • Jumlah aset atau kekayaan perusahaan asuransi. Anda perlu mengetahui jumlah aset atau kekayaan perusahaan tersebut, karena bila perusahaan asuransi ini salah perhitungan dan terjadi klaim risiko yang berlebih dibandingkan yang diprediksi, maka perusahaan asuransi harus siap untuk mencairkan asetnya
  • .Jumlah premi baru yang terus naik tiap tahunnya, yang menandakan secara tidak langsung kepercayaan masyarakat akan perusahaan asuransi tersebut. Bila banyak masyarakat mempercayakan pengalihan risiko ke perusahaan tersebut, kenapa Kita tidak ikuti saja?
  • Laba perusahaan asuransi, yang menandakan bahwa perusahaan asuransi ini dapat mengelola keuangan nasabah dengan baik. Secara umun, perusahaan apapun, andai setiap tahun ada laba bahkan jumlahnya naik terus tiap tahun, artinya perusahaan ini sangat bagus dan dapat memberikan hasil lebih kepada pemegang sahamnya. Begitupula dengan perusahaan asuransi, artinya keuangan perusahaan bagus dan dikelola dengan baik pula.
  • Jumlah klaim yang terus meningkat seiring pertumbuhan jumlah nasabah. Mengapa jumlah klaim itu sangat penting? Karena perusahaan asuransi adalah perusahaan yang bersedia menerima risiko, artinya perusahaan ini siap-siap terima klaim dari para nasabah. Bagi perusahaan asuransi yang profesional, mereka akan melakukan seleksi klaim dengan ketat, agar klaim dapat diberikan kepada orang yang tepat dengan jumlah yang sesuai. Klaim yang terus meningkat dengan seleksi klaim yang ketat, menandakan bahwa perusahaan asuransi ini punya kredibilitas tinggi dan melaksanakan kewajibannya dengan sangat baik. Seleksi klaim penting agar jangan sampai ada kebocoran dana kepada orang yang tidak berhak, karena nasabah lain yang akan dirugikan.
  • Pengakuan reputasi oleh lembaga-lembaga independen. Lembaga ini umumnya punya kategori dan kriteria pemilihan yang cukup ketat. Sehingga bila ada pengakuan dari mereka bahwa perusahaan asuransi ini adalah yang terbaik, maka hampir dapat dipastikan itu adalah penilaian yang objektif.Peringkat perusahaan asuransi. Semua orang pasti ingin yang terbaik, yang ditandakan menjadi nomor 1, selanjutnya no 2 dan 3. Jadi memilih perusahaan asuransi yang terbaik sudah tentu pilihan yang bijak.
  • Pilih perusahaan asuransi pelengkap. Apa maksudnya? Manfaat asuransi Anda maksimalkan pada sebuah perusahaan asuransi yang cocok bagi Anda. Namun bukan berarti tidak boleh punya di perusahaan asuransi lain. Kami menganjurkan Anda punya asuransi diperusahaan asuransi lainnya, namun hanya sebagai pelengkap kekurangan di perusahaan asuransi yang utama Anda pilih.

Demikian kelanjutan pertimbangan dalam memilih perusahaan asuransi yang cocok bagi Anda. Kami pun siap membantu Anda..

Selamat Aktivitas

Perusahaan Asuransi Manakah yang Saya Pilih?? (1)

Selamat Siang Planners,

Bila Anda memutuskan untuk mengalihkan risiko Anda kepada perusahaan asuransi, dan telah memilih jalur distribusi yang terbaik bagi Anda. Nah selanjutnya, perusahaan asuransi manakah yang sebaiknya saya pilih?

Pemilihan perusahaan asuransi tergantung dari beberapa pertimbangan :

  • Bila Anda memilih memiliki asuransi melalui bank, maka Anda harus kenali juga profil bank tersebut apakah dapat dipercaya? Karena kebutuhan transfer risiko sifatnya jangka panjang atau bahkan seumur hidup, apakah Anda yakin bank tersebut masih ada? Apakah Anda nyaman dengan potensi seringnya pergantian orang-orang yang akan membantu melayani polis asuransi Anda?
  • Bila Anda memilih memiliki asuransi melalui jasa tenaga agen atau konsultan keuangan, maka Anda harus yakin bahwa agen tersebut akan tetap ada disamping Anda dan profesinya tidak berubah. Karena agen lah yang akan kontak seumur hidup dengan Anda, maka bila Anda telah percaya kepadanya, Anda pertimbangan nama perusahaan asuransi menjadi bukan prioritas utama. Seharusnya agen yang profesional akan berada di perusahaan yang terbaik, bukan perusahaan asal-asalan, agar dapat merekomendasikan yang terbaik ke nasabah.
  • Nama perusahaan asuransi, hal ini menjadi salah satu pertimbangan karena semakin terkenal perusahaan asuransi tersebut, maka secara tidak langsung nasabahnya juga sudah cukup banyak. Bila banyak orang lain mau menjadi nasabahnya, kenapa Anda tidak ikut kebanyakan orang?

Itulah beberapa pertimbangan dalam memilih perusahaan asuransi yang tepat bagi Anda. Simak kelanjutannya besok siang.

Selamat Aktivitas..

Sudah Siapkah Aset Saya Menjadi Jaminan??

Selamat Siang Planners,

Kemarin Kami telah membahas tentang tidak wajibnya kepemilikan asuransi baik asuransi umum maupun jiwa.

Bila Anda memutuskan tidak ingin pakai asuransi, maka ini keputusan Anda. Konsekuensi nya, siapkah aset Anda menjadi jaminan atas segala macam kemungkinan kerugian atau dampak finansial yang menyertainya? Seberapa besar aset yang telah Anda siapkan untuk ini? Dapatkah membayar semua kemungkinan yang timbul?

Asuransi membahas tentang penjaminan beberapa risiko yang mungkin terjadi dalam hidup ini. Perusahaan asuransi bersedia menanggung risiko ini dengan cara memberikan sejumlah dana atas kerugian sesuai kontrak atau penggantian sebagian atau seluruh kerusakan (khusus asuransi umum).

Risiko memang belum tentu terjadi atau beberapa orang berkata bahwa kecil kemungkinannya. Namun siapa yang dapat menjamin risiko tersebut tidak mengenai Kita? Mungkinkah Kita berada di sedikit orang yang terkena risiko dibandingkan kebanyakan orang yang tidak kena risiko? Bila ada kemungkinannya, maka hanya ada 2 cara mengatasinya yaitu menghindari risiko dan pembiayaan risiko. Namun dalam hidup ini tidak ada yang bisa dicegah 100%, masih ada peluang atau kemungkinan gagal. Jadi apabila Kita tidak dapat menghindari risiko 100%, maka Kita harus melakukan atau menyiapkan pembiayaan risiko.

Pembiayaan risiko ini dapat dilakukan oleh diri sendiri atau pihak luar. Pembiayaan oleh diri sendiri lebih dikenal dengan self insurance, yang artinya Anda sudah mempersiapkan aset ataupun uang Anda untuk membayar risiko tersebut berapapun nilainya. Bila Anda merasa tidak mampu atau tidak punya atau tidak yakin dapat membiayai seluruhnya atau merasa rugi bila aset yang selama ini didapat dengan susah payah harus habis begitu saja padahal ada jalan keluar lainnya, maka mau tidak mau atau suka tidak suka Anda wajib memiliki asuransi. Karena ini solusi satu-satunya yang terbaik. Solusi lainnya adalah dengan mengharapkan bantuan pihak lain, dimana pasti Anda tidak ingin hal ini terjadi bukan?

Salam Perencanaan

Punya Asuransi? TIDAK WAJIB

Selamat Siang Planners,

Mungkin Anda bertanya-tanya apa maksid judul diatas?  Iya, pada prinsipnya setiap orang tidak wajib memiliki asuransi. Atau bahkan tidak perlu punya asuransi jiwa maupun umum/kerugian.

Sebagian besar masyarakat Indonesia masih tidak merasa nyaman atau tabu atau anti bila bicara tentang asuransi jiwa. Mereka sebagian besar lebih senang bicara atau memiliki asuransi umum atau kerugian seperti asuransi mobil, motor, rumah, dan sejenisnya. Sebenarnya keputusan mereka sudah tepat, asslkan ada dasar yang tepat.

Ada beberapa otang juga tidak mau memiliki asuransi umum. Alasan yang benar adalah karena mereka bersedia menanggung kerugian terhadap kerusakan barang mereka andaikan terjadi. Jangan karena alasan premi asuransinya cukup mahal, rugi kalau tidak pernah klaim, dan sejenisnya.

Begitupula dengan asuransi jiwa, ia hadir sebagai tempat untuk menerima pengalihan risiko kerugian finansial karena faktor kesakitan atau kematian seseorang. Siapakah sebenarnya yang mengalami kerugian? Kerugian finansial bisa terjadi pada semua orang, baik diri sendiri, keluarga, rekan bisnis, tempat atau orang pemberi pinjaman, dan lain-lain. Jika Anda siap untuk menerima dampak kerugian finansial karena faktor kesakitan (biaya pengobatan yang cukup mahal) dan kematian (kehilangan sumber penghasilan), maka Anda tidak perlu asuransi jiwa. Atau Anda sudah menyiapkan sejumlah besar harta atau aset yang dijamin tidak akan pernah habis karena biaya pengobatan yang mahal (baik jangka pendek maupun panjang) serta warisan bagi keluarga yang Anda tinggalkan sehingga meteka tidak akan pernah sengsara atau terlantar. Bila Anda tidak memiliki alasan ini, maka Anda wajib memiliki asuransi jiwa sebagai alat untuk mengurangi atau meminimalisasi dampak kerugian finansial ketika pencari nafkah tiada atau tidak sanggup bekerja atau karena pengeluaran yang sangat besar akibat biaya pengobatan yang mahal dan atau terus menerus.

Jadi wajib atau tidak wajib memiliki asuransi uumun maupun jiwa tergantung dari kondisi masing-masing orang. Anda sendirilah yang memutuskan  berdasarkan kondisi Anda dan keluarga, jangan karena ikut-ikutan atau kata orang lain. Karena Anda sendirilah yang akan mengalaminya secara langsung, sedangkan orang lain hanya dapat melihat dan berpendapat saja.

Salam Perencanaan

Bagi Porsi Tabungan dengan Bijak

Selamat Siang Planners,

Keuangan yang sehat memiliki porsi simpanan berupa tabungan atau investasi dari tiap penghasilan yang diterima. Porsi simpanan ini adalah sekitar 30 % dari penghasilan bulanan Anda. Lalu apakah tujuan simpanan Anda tersebut?

Agar lebih teratur, maka sebaiknya Kita membagi simpanan tersebut sesuai dengan tujuannya. Kita akan membagi menjadi 3 tujuan berdasarkan jangka waktu yaitu jangka pendek (< 2 tahun), jangka menengah (2-10 tahun) dan jangka panjang (>10 tahun). Masing-masing jangka waktu ini sebaiknya memiliki porsi nya tersendiri. Jangka panjang karena faktor inflasi dan kebutuhan yang umumnya cukup besar, maka porsi simpanan nya adalah 10-20 % total penghasilan bulanan. Sedangkan sisanya 10-20 % total penghasilan porsi simpanan dibagi rata untuk kebutuhan jangka pendek dan jangka menengah.

Dengan adanya pembagian ini, Anda akan mengetahui apakah tabungan Anda cukup untuk memenuhi salah satu kebutuhan Anda, tanpa mengorbankan kebutuhan lainnya.

Salam Perencanaan

Maksimalkan Kemampuan Cicilan Masa Depan Anda dari pada Cicilan Konsumtif Anda

Selamat Siang Planners,

Kebanyakan orang lebih suka membelanjakan uangnya dengan berbagai barang-barang yang mengalami penyusutan nilai (kendaraan, alat rumah tangga, dan sebagainya) dibandingkan dengan cicilan sebagai bentuk menabung jangka panjang. Mengapa begitu? Karena umumnya orang merasa jenuh bila penghasilan yang didapat tidak dapat dinikmati saat ini juga. Godaan untuk berhenti menabung semakin besar.

Jadi langkah pertama adalah Anda harus kuatkan mental agar tahan terhadap godaan berhenti cicil masa depan atau bahkan yang lebih bahaya apabila hasil cicilan selama ini Anda ambil untuk hal lainnya.

Kenali kemampuan finansial Anda. Hitung dengan baik. Maksimal 30 % penghasilan bulanan Anda merupakan untuk di tabung atau investasikan untuk cicil masa depan. Jangan ambil yang seminimal mungkin. Tapi pilihlah semaksimal mungkin yang dapat Anda tabung. Karena nilai masa depan Anda umumnya sangat besar sekali, jadi harus dicicil sejak dini.

Selamat Menyisihkan

Lebih Baik Mulai Sesegera Mungkin dari pada Tidak Sama Sekali

Selamat Siang Planners,

Pada pembahasan kemarin Kita telah lihat kondisi apabila dana Kita terbatas. Kita memilih yang paling utama terlebih dahulu untuk mencicil.

Kapankah waktu terbaik untuk mulai mencicil bagi Anda dengan keuangan terbatas? Jawabannya adalah sesegera mungkin, yaitu saat ini juga. Jumlah cicilan disesuaikan dengan kemampuan Anda saat ini. Maksimalkan yang ada, jangan fokus terhadap besarnya kekurangan yang Anda harus penuhi.

Lebih baik mulai sekarang juga dari pada tidak memulai sama sekali. Namun ketika ekonomi Anda jauh lebih baik, saatnya Anda menambah jumlah cicilan Anda.

Semoga Bermanfaat

Tetapkan Prioritas Cicilan Masa Depan Anda Bila Dana Terbatas

Selamat Siang Planners,

Kemarin Kita telah membahas jenis-jenis cicilan masa depan Anda. Bila bicara mengenai kebutuhan, tentu semua orang akan memiliki lebih dari 1 atau 2 kebutuhan jangka panjang. Semua orang ingin mewujudkan semua kebutuhan masa depan tersebut.

Namun ada baiknya Kita juga evaluasi kemampuan saat ini dan prediksi kemampuan masa depan bila Kita berada dalam pekerjaan yang sama. Bila ternyata kemampuan dana Anda saat ini terbatas, maka tetapkan prioritas cicilan masa depan yang paling penting terlebih dahulu. Selain itu diharapkan Anda sesegera mungkin meningkatkan pendapatan untuk mewujudkan cicilan masa depan kebutuhan lainnya. Namun alangkah baiknya bila Anda dapat mencicil semua kebutuhan masa depan Anda saat ini.

Selamat Merencanakan